Saturday, September 17, 2016

Kitab Tauhid 8

BAB : MENGAJAK MANUSIA BERSYAHADAT LAAILAAHAILLALLAH (TIDAK ADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH KECUALI ALLAH)
**********
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari peperangan Khaibar,
لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ"، فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوكُونَ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا،  فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ غَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَرْجُونَ أَنْ يُعْطَاهَا. فَقَالَ أَيْنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقِيْلَ: هُوَ يَشْتَكِي عَيْنَيْهِ، فَأَرْسِلُوا إِلَيْهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَبَصَقَ فِي عَيْنَيْهِ، وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ، كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ وَجَعٌ، فَأَعْطَاهُ الرَّايَةَوَقَالَ: «انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ، حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللهِ فِيه فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“Aku akan berikan bendera (komando perang) ini besok kepada seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya. Allah akan memberikan kemenangan melalui kedua tangannya.” Maka semalaman suntuk para sahabat membicarakan tentang siapa yang akan menerima bendera itu. Pada pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; masing-masing berharap agar ia diserahi bendera itu. Maka Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam bersabda, “Di mana Ali bin Abi Thalib?” Lalu diberitahukan, bahwa ia sedang sakit mata. Kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah dia. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi kedua matanya, seketika itu ia pun sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan bendera itu kepadanya dan bersabda, “Melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai di tempat mereka. Kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Allah dalam Islam. Demi Allah, jika Dia memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebab engkau; itu lebih baik daripada unta-unta merah.”  
**********
Hadits di atas dalam Shahih Bukhari no. 2942 dan Muslim no. 2406.
Sahl bin Sa’ad bin Malik bin Khalid Al Anshariy Al Khazraji adalah seorang sahabat yang masyhur. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, usianya baru 15 tahun. Ia adalah seorang sahabat yang terakhir wafat di Madinah. Ia wafat pada tahun 91 H, ada pula yang berpendapat kurang dari itu, dalam usia melebihi seratus tahun.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah putera paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menantunya. Ia juga sebagai khalifah keempat dan termasuk As Sabiqunal Awwalun (generasi yang pertama masuk Islam) serta termasuk sahabat yang dijanjikan surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia wafat terbunuh pada tahun 40 H.
Dalam hadits di atas terdapat salah satu tanda kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi ‘a sallam, yaitu bahwa kaum muslimin akan memenangkan melawan orang-orang Yahudi pada esok harinya melalui tangan seorang sahabat mulia yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dicintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu masing-masing sahabat ingin jika sekiranya bendera komando perang itu diserahkan kepadanya sehingga mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau menanyakan keberadaan Ali dan diberitahukan bahwa ia sedang sakit mata, maka Beliau meminta dipanggil ke hadapannya, lalu Beliau meludahi kedua matanya sehingga matanya pun sembuh. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan bendera itu kepadanya dan menyuruhnya agar mendatangi mereka (orang-orang Yahudi) secara pelan-pelan dan mendakwahi mereka kepada Islam serta memberitahukan kepada mereka hak-hak Allah dalam Islam seperti shalat, zakat, puasa, dsb. Kemudian Beliau menerangkan kepada Ali bin Abi Thalib keutamaan dakwah, dan bahwa jika ada seorang yang mendapatkan hidayah Allah dengan sebabnya, maka hal itu lebih baik daripada memperoleh unta merah yang merupakan harta kekayaan orang-orang Arab yang paling berharga.
Dalam hadits di atas terdapat dalil disyariatkan mengajak manusia kepada tauhid dan keutamaan dakwah ilallah.
Kesimpulan:
1.    Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan persaksian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dirinya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir maupun batin.
2.    Menetapkan sifat cinta bagi Allah, yakni bahwa Dia mencintai para wali-Nya dengan kecintaan yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.
3.    Keinginan besar para sahabat untuk memperoleh kebaikan dan bersegeranya mereka dalam beramal saleh.
4.    Disyariatkan memiliki adab ketika berperang, tidak serampangan dan tidak rebut di dalamnya.
5.    Perintah dari imam kepada para prajurit untuk bersikap lembut tanpa melemah dan hilang semangat.
6.    Perintah mendakwahkan kepada Islam sebelum dimulai pertempuran.
7.    Dakwah dilakukan secara bertahap; diawali dengan mengajak kepada Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian diperintahkan mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam lainnya.
8.    Keutamaan dakwah ilallah, dan bahwa da’i maupun mad’u (objek dakwah) mendapatkan kebaikan; adakalanya mad’u mendapatkan hidayah, dan da’i memperoleh pahala yang besar.
9.    Bukti kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
10. Beriman kepada Qadha dan Qadar, ternyata bendera perang diserahkan kepada orang yang tidak mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan sakit, yaitu Ali bin Abi Thali radhiyallahu ‘anhu.
11. Tidak cukup hanya berlebel Islam, bahkan seseorang harus mengetahui kewajiban di dalamnya dan mengamalkannya.
**********
BAB : TAFSIRAN TAUHID DAN SYAHADAT LAAILAAHAILLALLAH
Allah Ta’ala berfirman,
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57)
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Israa’: 57)
**********
Setelah mushannif (penyusun; Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) menyebutkan tentang keutamaan tauhid, seruan kepadanya, dan takut terhadap syirk di bab-bab sebelumnya, maka di bab ini beliau menerangkan makna Tauhid, karena sebagian manusia keliru dalam memahami maknanya; mereka mengira bahwa makna tauhid adalah mengikrarkan tauhid Rububiyyah saja, padahal bukan itu maksudnya. Bahkan maksudnya adalah sebagaimana yang diterangkan oleh dalil-dalil syar’i yang sebagiannya disebutkan oleh penyusun, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah dan menjauhi syirk.
Adapun disebutkan kata “Syahadat Laailaahaillallah” setelah kata “tauhid” sebagaimana yang tercantum dalam bab di atas adalah untuk menerangkan, bahwa kedua kata itu sama maknanya.
Firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang mereka seru itu,” maksudnya adalah para malaikat, para nabi, orang-orang saleh, dan lainnya. Merekalah yang diseru dan disembah oleh orang-orang kafir dan musyrik. Padahal mereka mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).
Dalam ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan, bahwa orang-orang yang disembah oleh kaum kafir dan musyrik yaitu para malaikat, para nabi, dan orang-orang saleh, mereka semua mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, mengharapkan rahmat-Nya, dan takut terhadap azab-Nya. Jika demikian keadaan mereka, maka pantaskah mereka disembah di samping Allah, sedangkan mereka sibuk mendekatkan diri kepada-Nya? Tentu tidak pantas.
Ayat di atas juga menerangkan tentang tafsiran Tauhid, yaitu meninggalkan perbuatan yang dilakukan kaum musyrik berupa berdoa kepada orang-orang saleh dan menjadikan mereka sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam menghilangkan musibah dan mendatangkan manfaat.
Kesimpulan:
1.    Bantahan terhadap kaum kafir dan musyrik yang berdoa kepada para wali dan orang-orang saleh dalam menghilangkan musibah dan mendatangkan manfaat, bahwa mereka yang diminta itu tidak berkuasa menghindarkan musibah terhadap diri mereka sendiri dan tidak berkuasa mendatangkan manfaat. Jika demikian, maka bagaimana mereka bisa memberikan manfaat dan menghindarkan musibah dan bahaya yang menimpa orang lain?
2.    Tingginya rasa takut para nabi dan orang-orang saleh kepada Allah, dan besarnya harapan mereka kepada rahmat Allah Azza wa Jalla.
**********
Firman Allah Ta’ala,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27)
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah,--Tetapi (aku hanya menyembah) Tuhan yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az Zukhruf: 26-27)
**********
Dalam ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta’ala menerangkan tentang keadaan hamba-Nya, Rasul-Nya, dan kekasih-Nya, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, bahwa Beliau berlepas diri dari semua yang disembah oleh ayahnya dan kaumnya. Beliau hanya menyembah kepada Allah yang telah menciptakannya.
Pada ayat tersebut juga terdapat tafsiran Tauhid dan syahadat Laailaahaillallah, yaitu berlepas diri dari perbuatan syirk dan menetapkan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla saja.
Kesimpulan:
1.    Makna Laailaahaillallah adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan berlepas diri dari beribadah kepada selain-Nya (syirk).
2.    Perintah menampakkan sikap berlepas diri dari agama kaum musyrik.
3.    Disyariatkannya berlepas diri dari para pelaku kemusyrikan meskipun ia sebagai orang yang paling dekat hubungannya dengan dirinya.

Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Al Ishabah fii Tamyizish Shahabah Maktabatusy (Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalaniy), Syamilah versi 3.45, dll.