Saturday, September 17, 2016

Kitab Tauhid 16

BAB : TERMASUK SYIRIK BERISTIGHATSAH DAN BERDOA KEPADA SELAIN ALLAH

Firman Allah Ta’ala,
وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu berdoa kepada sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim."(QS. Yunus: 106)
**********
Penjelasan:
Pada bab ini, penyusun menerangkan salah satu macam syirik yang dapat menafikan Tauhid, yaitu beristighatsah dan berdoa kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Istighatsah artinya memohon agar dihilangkan penderitaan yang menimpanya.
Perbedaan antara istighatsah dengan doa adalah, bahwa istighatsah dilakukan oleh orang yang sedang menderita, sedangkan doa dilakukan oleh orang yang menderita atau selainnya.
Dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta’ala melarang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada salah seorang makhluk pun untuk memperoleh manfaat atau menyingkirkan bahaya, kemudian Dia menerangkan hukumnya, yakni jika hal itu dilakukan, maka ia akan menjadi orang-orang yang rugi. Larangan ini berlaku baik bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun umatnya.
Intinya, bahwa pada ayat tersebut terdapat larangan berdoa kepada selain Allah, dan bahwa hal itu merupakan perbuatan syirik yang menafikan tauhid.
Kesimpulan:
1.    Berdoa kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala adalah syirik akbar.
2.    Jika manusia terbaik (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) melakukan berdoa kepada selain Allah dinyatakan oleh-Nya termask orang-orang yang zalim, apalagi selain Beliau.
3.    Lemahnya sesembahan kaum musyrik dan batilnya menyembah sesembahan itu.
**********
Firman Allah Ta’ala,
وَإِن يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)
**********
Penjelasan:
Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa Dia yang sendiri berkuasa, memberi dan mencegah, dan memberikan manfaat atau mudharat (bahaya). Oleh karena itu, seharusnya hanya Dia saja yang disembah; bukan selain-Nya, yaitu sesembahan yang tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudharat terhadap dirinya, apalagi terhadap orang lain.
Dalam ayat ini terdapat bukti keberhakan Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk diibadati, serta ditujukan istighatsah dan doa.
Kesimpulan:
1.    Wajibnya mengesakan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam beribadah, karena keesaan-Nya dalam mencipta, menguasai, mengatur, dan memberikan rezeki kepada alam semesta.
2.    Batilnya menyembah selain Allah, karena keadaannya yang lemah dan tidak mampu memberikan manfaat dan menghindarkan mudharat (bahaya).
3.    Mentapkan sifat ‘masyi’ah’ (kehendak) bagi Allah Subhaanahu wa Ta’ala .
4.    Menetapkan sifat ‘maghfirah’ (mengampuni) dan ‘rahmah’ (menyayangi) bagi Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
**********
Firman Allah Ta’ala,
فَابْتَغُوا عِندَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al Ankabut: 17)
**********
Penjelasan:
Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita hanya meminta rezeki kepada-Nya; tidak kepada patung dan berhala. Dia juga memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya, serta bersyukur kepada-Nya. Selanjutnya, Dia menerangkan, bahwa kepada-Nyalah kita akan dikembalikan, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang yang beramal sesuai amalnya.
Kesimpulan:
1.   Wajibnya berdoa dan meminta rezeki hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
2.   Wajibnya mengesakan Allah dalam berbagai macam bentuk ibadah. 
3.   Wajibnya mensyukuri nikmat Allah, yaitu dengan mengakui nikmat-Nya dan menggunakannya untuk ketaatan kepada-Nya.
4.   Menetapkan adanya kebangkitan dan pembalasan terhadap amal.
5.   Beribadah dan berdoa hanya kepada Allah tidaklah menafikan untuk mencari rezeki-Nya, karena Dia memerintahkan kita mencarinya. Dia berfirman, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10)
**********
Firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ )5(وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (6)
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka (yang disembah) lalai dari (memperhatikan) doa mereka?--Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. Al Ahqaf: 5-6)
**********
Penjelasan:
Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang menyembah dan memohon kepada selain Allah sesuatu yang tidak mampu mengabulkan permohonan mereka, demikian pula tidak merasakan doa yang dipanjatkan kepadanya. Dan pada hari Kiamat nanti, sesembahan mereka akan menjadi musuh terhadap penyembahnya dan berlepas diri darinya. Dengan demikian, orang musyrik adalah orang yang sengsara di dunia dan akhirat, di dunia permohonannya tidak dikabulkan dan di akhirat sesembahannya akan menjadi musuhnya.
Kesimpulan:
1.    Doa adalah ibadah, mengarahkannya kepada selain Allah merupakan syirik akbar dan dosa yang paling besar.
2.    Ruginya mereka yang menyembah dan berdoa kepada selain Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
3.    Syirik adalah kesesatan paling besar.
4.    Menetapkan adanya kebangkitan, pengumpulan manusia di padang mahsyar, dan pembalasan terhadap amal.
5.    Patung maupun berhala sama sekali tidak dapat mendengar doa yang dipanjatkan kepadanya, apalagi mengabulkan. Berbeda dengan apa yang disangka orang-orang musyrik.
6.    Beribadah dan berdoa hanya kepada Allah adalah kebahagiaan bagi seseorang di dunia dan di akhirat.
**********
Firman Allah Ta’ala,
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali kamu mengingat(Nya).” (QS. An Naml: 62)
**********
Penjelasan:
Pada ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala membantah kaum musyrik yang menyembah selain-Nya, padahal mereka mengetahui dan mengakui pengabulan Allah terhadap permohonan mereka saat mereka berdoa kepada-Nya dalam kondisi sulit. Dia pula yang menghilangkan kesusahan dari mereka dan yang menjadikan mereka sebagai khalifah (pengganti terhadap generasi sebelumnya). Akan tetapi mereka tidak mengingat keagungan Allah dan nikmat-Nya kecuali sedikit sehingga tidak membuahkan rasa takut dalam diri mereka. Oleh karenanya mereka jatuh ke dalam perbuatan syirik.
Dalam ayat di atas juga terdapat penjelasan batilnya beristighatsah kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Kesimpulan:
1.    Batilnya beristighatsah (memohon dihilangkan derita) kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dimana tidak ada yang sanggup menghilangkannya selain Dia.
2.    Kaum musyrik mengakui tauhid Rububiyyah (hanya Allah yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta), namun hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam sampai mereka mentauhidkan Allah dalam beribadah.
3.    Pengakuan terhadap tauhid Rububiyyah mengharuskan seseorang mentauhidkan Allah dalam uluhiyyah (ibadah).
4.    Membantah kaum musyrik dengan apa yang mereka akui.
**********
Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang munafik yang mengganggu orang-orang mukmin, lalu salah seorang di antara orang mukmin berkata, “Marilah kita bersama-sama memohon perlindungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang munafik ini,” maka Beliau bersabda,
إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِي، وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللهِ
“Sesungguhnya aku tidak boleh dimintai perlindungan, hanya Allah saja yang boleh dimintai perlindungan.”
**********
Penjelasan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana diterangkan Al Haitsami dalam Majmauz Zawaid no. 17276, namun dalam sanadnya terdapat rawi bernama Abdullah bin Lahi’ah seorang yang dhaif dan hapalannya bercampur, sehingga hadits tersebut dhaif, wallahu a’lam.
Kesimpulan:
1.    Tidak diperbolehkan meminta perlindungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kepada selainnya.
2.    Arahan untuk menggunakan lafaz yang baik yang dapat menjaga tauhid.
3.    Menutup celah yang dapat mengantarkan kepada kemusyrikan.
4.    Disyariatkan bersabar terhadap gangguan di jalan Allah.
5.    Tercelanya sifat munafik.
6.    Haramnya menyakiti kaum mukmin, karena yang demikian termasuk sifat orang-orang munafik.

Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.