Saturday, September 17, 2016

Kitab Tauhid 21

Bab: Sebab Kufurnya Anak Cucu Adam serta Meninggalkan Agamanya adalah Karena Sikap Ghuluw (Berlebihan) Terhadap Orang-Orang Saleh

Firman Allah Azza wa Jalla,
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ
“Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An Nisaa’: 171)
**********
Penjelasan:
Setelah penyusun (Syaikh Muhammad At Tamimi) rahimahullahmenyebutkan pada bab-bab sebelumnya sebagian perbuatan yang dilakukan para penyembah kubur berupa perbuatan syirik, seperti berdoa dan meminta kepada para penghuni kubur, maka pada bab ini Beliau menerangkan sebab terjadinya hal itu agar seseorang waspada dan menjauhinya, yaitu sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang-orang saleh.
Ghuluw artinya berlebihan dalam memuliakan, baik dalam ucapan maupun perbuatan, serta melampaui batas dari apa yang Allah tetapkan.
Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala melarang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) bersikap melampaui batas dari apa yang Allah tetapkan, seperti menempatkan makhluk di atas posisi yang Allah tetapkan baginya. Contohnya adalah Nabi Isa ‘alaihis salam, dimana kedudukannya adalah sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya; maka jangan sampai menjadikannya sebagai tuhan. Dalam ayat tersebut terdapat larangan bersikap ghuluw secara mutlak, termasuk pula bersikap ghuluw dengan orang-orang saleh. Ayat tersebut, meskipun tertuju kepada Ahli Kitab, tetapi maknanya adalah umum mencakup semua umat agar tidak bersikap terhadap nabi dan orang-orang saleh mereka seperti sikap yang dilakukan orang-orang Nasrani kepada Isa, dan orang-orang Yahudi kepada Uzair.
Kesimpulan:
1.    Larangan bersikap ghuluw.
2.    Bersikap ghuluw terhadap nabi dan orang-orang saleh sama saja menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani.
3.    Dorongan untuk bersikap lurus dalam beragama, yaitu antara sikap meremehkan dan melampaui batas.
4.    Peringatan terhadap perbuatan syirik, sebabnya, dan sarana yang mengantarkan kepadanya.
**********
Dalam kitab Shahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala,
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, suwa', yaghuts, ya'uq, dan nasr.” (QS. Nuh: 23)
Ia berkata, “Itu adalah nama laki-laki saleh dari kalangan kaum Nuh alaihis salam. Saat mereka wafat, maka setan membisikkan mereka untuk membuatkan patung-patung di majlis-majlis mereka (berkumpul) dan memberinya nama dengan nama-nama orang saleh itu. Mereka pun melakukannya, namun masih belum disembah, tetapi setelah mereka wafat dan ilmu (agama) dilupakan, maka patug-patung itu pun disembah.”
Ibnul Qayyim berkata, “Banyak dari kalangan kaum salaf berkata, “Saat orang-orang saleh itu meninggal dunia, maka mereka mendatangi kuburannya, membuat patungnya dengan rupa mereka, dan setelah berlalu waktu yang panjang, maka patung-patung itu pun disembah.”  
**********
Penjelasan:
Atsar Ibnu Abbas di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 4920.
Ibnul Qayyim, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub Az Zar’iy Ad Dimasyqi; murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ia wafat pada tahun 751 H, dan memiliki banyak karya yang bermanfaat.
Dalam atsar di atas, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan, bahwa sesembahan yang disebutkan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam -dimana mereka saling mengingatkan antara sesama mereka untuk tetap menyembahnya padahal Nabi mereka telah melarangnya-, sebelumnya adalah nama orang-orang saleh, namun mereka bersikap ghuluw terhadapnya karena bisikan setan, hingga akhirnya mereka membuatkan patung orang-orang saleh itu, dan akhirnya patung-patung itu pun disembah.
Adapun penjelasan Ibnul Qayyim, bahwa mereka mendatangi kubur orang-orang saleh itu adalah ketika belum dibuatkan patung-patung mereka, namun setelah dibuatkan patung-patung, maka mereka mendatangi patung-patung itu.
Dengan demikian, salah satu sebab terjadinya penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah karena ghuluw (sikap berlebihan) terhadap orang-orang saleh.
Kesimpulan:
1.    Sikap ghuluw terhadap orang-orang saleh merupakan penyebab terjadinya penyembahan kepada mereka dan menjadi sebab ditinggalkannya ajaran agama.
2.    Larangan menggambar makhluk bernyawa dan memajangnya, apalagi jika yang digambar dan dipajang gambarnya adalah gambar para tokoh.
3.    Larangan membuat patung.
4.    Peringatan agar tidak tertipu oleh tipu daya setan, serta sikapnya menghias kebatilan dengan kebenaran.
5.    Peringatan agar tidak berbuat bid’ah dan mengada-ada dalam agama meskipun niatnya baik.
6.    Sikap ghuluw, menggambar makhluk bernyawa dan memajangnya, serta membuat patung merupakan sarana yang bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik, sehingga dilarang.
7.    Pentingnya ilmu agama, dan bagaimana keadaan ketika ilmu agama dilupakan.
8.    Sebab hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ulama.
9.    Peringatan agar tidak ikut-ikutan (taklid), dan bahwa sikap itu terkadang bisa membawa seseorang keluar dari bingkai Islam.
**********
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
**********
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 3445, Musnad Ahmad1/295, dan tidak ada dalam Shahih Muslim.
Umar bin Khaththab bin Nufail Al Qurasyi adalah Amirul Mu’minin; khalifah kedua, dan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terbaik setelah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijjah tahun 23 H.
Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya bersikap berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan kepada Nabi mereka sampai memposisikannya sebagai tuhan. Beliau menyuruh umatnya memposisikan Beliau pada tempat yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai hamba dan Rasul-Nya. Hadits di atas juga menunjukkan haramnya bersikap ghuluw, dan bahwa hal itu dapat membawa kepada kemusyrikan.
Kesimpulan:
1.    Haramnya berlebihan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memposisikannya melebihi posisi yang Allah tetapkan bagi Beliau, yaitu sebagai hamba dan Rasul-Nya.
2.    Perhatian besar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.
3.    Berlebihan terhadap orang-orang saleh merupakan sebab terjatuhnya ke dalam kemusyrikan.
4.    Peringatan agar tidak menyerupai orang-orang kafir.
**********
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ
“Jauhilah oleh kalian bersikap ghuluw, karena sikap ghuluw telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.
**********
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan oleh Imam Ahmad 1/215, 347, Ibnu Majah 3029, Ibnu Khuzaimah no. 2867, Hakim 1/466, ia menshahihkannya dan disepakati oleh Adz Dzahabi.
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya agar tidak bersikap melampaui batas dalam beragama, dan hal ini meliputi sikap melampaui batas dalam akidah maupun amal. Termasuk di dalamnya berlebihan dalam memuliakan orang-orang saleh yang ternyata menjadi sebab binasanya orang-orang terdahulu.
Kesimpulan:
1.  Larangan bersikap ghuluw dan akibatnya.
2.  Mengambil pelajaran dari penyimpangan yang terjadi pada umat-umat terdahulu sehingga mereka binasa agar kita menjauhinya.
3.  Usaha keras Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyelamatkan umatnya agar tidak jatuh ke dalam syirik atau melakukan perbuatan yang mengantarkan kepadanya.
4.  Dorongan bersikap pertengahan dalam beragama, yaitu tidak melampaui batas (dari aturan yang ditetapkan) dan tidak meremehkan.
5.  Berlebihan terhadap orang-orang saleh merupakan sebab terjatuh ke dalam kemusyrikan.
6.  Takutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjatuh ke dalam syirik, serta peringatan Beliau terhadapnya.
**********
Dalam riwayat Muslim dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ»
“Binasalah orang-orang yang melampaui batas.
Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.
**********
Penjelasan:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Muslim no. 2670, Abu Dawud no. 4608, dan Ahmad 1/386.
Mutanaththi’un dalam hadits di atas artinya orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas baik dalam ucapan maupun amalan.
Dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan, bahwa berlebihan dan melampaui batas dalam sesuatu menjadi sebab binasanya seseorang. Dalam hadits tersebut terdapat larangan bersikap demikian. Termasuk ke dalam sikap berlebihan dan melampaui batas adalah memuliakan orang-orang saleh secara berlebihan sehingga membawanya kepada perbuatan syirik.
Kesimpulan:
1.    Larangan bersikap berlebihan dan melampaui batas dalam segala sesuatu, terutama dalam beribadah (sehingga melewati aturan) dan dalam memuliakan orang-orang saleh.
2.    Dorongan untuk bersikap pertengahan; antara melampaui batas dan meremehkan.
3.    Perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar mereka berada di atas keselamatan.

Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.