Saturday, August 25, 2018

Kitab Tauhid 42

Bab : Barang siapa Yang Mengingkari Sebagian Nama dan Sifat Allah Ta’ala
Firman Allah Ta’ala,
وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ
“Padahal mereka kafir kepada Ar Rahman. Katakanlah, "Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat." (Qs. Ar Ra’d: 30)
**********
Penjelasan:
Oleh karena tauhid terbagi tiga, yaitu tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat, dan beriman kepada Allah tidak akan terwujud sampai mengimani tiga hal ini, maka penulis (Syaikh Muhammad At Tamimi) menyebutkan masalah ini untuk menerangkan hukum orang yang mengingkari sebagian nama atau sifat-Nya.
Firman-Nya, “Padahal mereka kafir kepada Ar Rahman,” yakni orang-orang kafir Quraisy mengingkari nama Ar Rahman padahal Ar Rahman adalah salah satu nama Allah, dan rahmat adalah salah satu sifat-Nya. Selanjutnya Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam untuk membantah pengingkaran mereka ini dan memerintahkan untuk menyatakan keimanan kepada Allah berikut nama dan sifat-Nya, dan bahwa Dia saja yang berhak disembah, kepada-Nya kita bertawakkal dan kepada-Nya kita kembali.
Ayat di atas menunjukkan bahwa mengingkari sebagian nama dan sifat Allah merupakan kekufuran.
Kesimpulan:
1.      Wajibnya beriman kepada nama dan sifat Allah Ta’ala.
2.      Wajibnya bertawakkal dan bertaubat kepada-Nya.
3.      Wajibnya mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala.
**********
Dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Ali radhiyallahu anhu berkata,
حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ، أَتُرِيْدُوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟
“Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang difahami mereka, sukakah kalian jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
**********
Penjelasan:
Shahih Bukhari adalah kitab yang memuat hadits-hadits yang shahih yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari yang bernama Muhammad bin Ismail Al Bukhari. Bukhari adalah nisbat kepada sebuah kota bernama Bukhara yang berada di Uzbekistan.
Atsar di atas disebutkan dalam Shahih Bukhari no. 127.
Dalam atsar (riwayat dari sahabat) di atas diterangkan, bahwa sepatutnya kita berbicara kepada kalangan masyarakat awam dengan kata-kata yang yang biasa dikenal mereka, memberikan manfaat bagi pada pondasi maupun cabang agama mereka, seperti tauhid, halal dan haram, serta meninggalkan hal yang memalingkan dari itu yang terkadang membuat kebenaran ditolak, dan sulit difahami dan dijangkau akal mereka. 
Dari atsar di atas dapat kita simpulkan, bahwa jika penyampaian kita dikhawatirkan tidak mereka fahami, maka sebaiknya tidak perlu disampaikan meskipun benar.
**********
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thawus, dari ayahnya dari Ibnu Abbas, bahwa ia melihat seseorang terkejut ketika mendengar hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang sifat Allah karena merasa keberatan dengan hal tersebut, maka Ibnu Abbas berkata, “Apa yang dikhawatirkan mereka? Mereka mau mendengar dan menerima ayat-ayat yang muhkamat (jelas pengertiannya), namun keberatan ketika dibacakan ayat-ayat mutasyabihat (tidak dimengerti maksudnya).” 
**********
Penjelasan:
Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani adalah seorang imam, hafizh, penyusun berbagai karya, yang wafat pada tahun 211 H.
Ma’mar adalah Abu Urwah Ma’mar bin Rasyid Al Azdiy Al Bashri, seorang yang tsiqah lagi kokoh, wafat pada tahun 154 H.
Ibnu Thawus adalah Abdullah bin Thawus Al Yamani, seorang yang tsiqah, utama, dan ahli ibadah, wafat pada tahun 132 H.
Thawus adalah Thawus bin Kaisan Al Janadiy, seorang imam.
Atsar di atas disebutkan pula oleh Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah (485) dan dishahihkan isnadnya oleh Syaikh Al Albani.
Dalam atsar di atas, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma mengingkari sebagian manusia yang hadir di majlisnya, dimana mereka merasa keberatan mendengarkan hadits-hadits tentang sifat Allah Ta’ala, sehingga tidak terwujud dari mereka keimanan yang wajib terhadap apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka mengetahui maknanya dari Al Qur’an, dimana hal itu adalah kebenaran yang tidak mungkin seorang mukmin ragu di dalamnya, namun sebagian mereka malah mentakwilnya dengan makna yang tidak diinginkan Allah Ta’ala.
Disebutkan atsar ini setelah atsar dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang menerangkan sepatutnya tidak berbicara dengan manusia dengan sesuatu yang tidak mereka fahami, lalu disebutkan atsar di atas untuk menunjukkan bahwa nash-nash yang menyebutkan sifat-sifat Allah Ta’ala tidak termasuk hal yang dilarang membicarakannya, bahkan patut disampaikan, dan keberatan sebagian manusia menyimaknya bukanlah menjadi faktor penghalang untuk menyebutkannya, karena para ulama sejak dahulu membacakan ayat dan hadits tentang sifat Allah Ta’ala di hadapan manusia baik kalangan awam maupun kalangan penuntut ilmu.
Kesimpulan:
1.      Tidak mengapa menyampaikan ayat dan hadits tentang sifat Allah Ta’ala di hadapan masyarakat awam.
2.      Menolak salah satu sifat Allah Ta’ala atau mengingkarinya padahal sahih merupakan kebinasaan.
3.      Kritik terhadap mereka yang berkeberatan menyimak ayat dan hadits tentang sifat Allah Ta’ala.
**********
Orang-orang Quraisy ketika mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebut nama Ar Rahman, maka mereka mengingkarinya, lalu Allah menurunkan firman-Nya,
وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ
“Padahal mereka kafir kepada Ar Rahman." (Qs. Ar Ra’d: 30)
**********
Penjelasan:
Saat kaum musyrik hendak mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah, dan ketika di perjanjian itu ditulis ‘Bismillahirrahmanirrahim,’  maka mereka (kaum musyrik) berkata, “Adapun Ar Rahman, maka kami tidak mengenal-Nya.” Kami tidak menulis kecuali dengan kalimat Bismikallahumma, lalu turunlah ayat di atas karena pengingkaran mereka terhadap nama Allah Ar Rahman. Ada pula yang berpendapat, bahwa ayat di atas turun ketika mereka mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa dalam sujudnya ‘Yaa Rahmaan yaa Rahiim,’  maka mereka berkata, “Orang ini (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) mengatakan bahwa dirinya berdoa kepada satu Tuhan, namun yang dia sebut Ar Rahman dan Ar Rahim, maka turunlah ayat di atas atau turun ayat di surat Al Israa’: 110, wallahu a’lam.
Kesimpulan:
1.      Menetapkan nama dan sifat bagi Allah Ta’ala mengikuti Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.
2.      Banyak nama tidak menunjukkan banyak dzat.
3.      Disyariatkan berdoa kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya.
**********
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Fathul Majid (Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh), MaktabahSyamilah versi 3.45, dll.