Friday, January 24, 2020

Kitab Tauhid 58

Bab: Upaya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Dalam Menjaga Tauhid dan Menutup Jalan ke Arah Syirik
Dari Abdullah bin Asy Syikhkhir radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku pernah pergi dalam suatu delegasi Bani Amir mennemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu kami mengatakan,
أَنْتَ سَيِّدُنَا، فَقَالَ: «السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى» قُلْنَا: وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا، فَقَالَ: «قُولُوا بِقَوْلِكُمْ، أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ»
“Engkau adalah sayyid (tuan) kami,” maka Beliau bersabda, “As Sayyid (tuan) yang sebenarnya adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.“ Kami juga mengatakan kepada Beliau, “Engkau adalah orang yang paling utama dan paling besar kebaikannya.” Beliau pun bersabda, “Ucapkanlah perkataan atau sebagian perkataan yang wajar, dan janganlah kalian terseret oleh setan.”
(Hr. Abu Dawud dengan sanad yang jayyid)
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya no. 4806 dan Ahmad dalam Musnadnya 4/25, dan dishahihkan oleh Al Albani.
Dalam bab ini diterangkan, bahwa tauhid tidak sempurna tanpa menjauhi segala perkataan dan perbuatan yang dapat membawa kepada sikap ghuluw (berlebihan) terhadap makhluk yang dikhawatirkan daripadanya jatuh ke dalam syirik.
Abdullah bin Asy Syikhkhir bin Auf bin Ka’ab bin Waqdan Al Harisyi adalah seorang sahabat yang masuk Islam pada saat Fathu (penaklukkan) Makkah yang kemudian tinggal di Basrah dan diangkat menjadi gubernurnya. Ia merupakan ayah dari seorang Ahli Fiqih, yaitu Mutharrif.
Hadits  di atas menerangkan, bahwa saat delegasi Bani Amir datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka memuji Beliau secara berlebihan, maka Beliau melarangnya sebagai bentuk beradab kepada Allah Azza wa Jalla dan untuk menjaga tauhid. Beliau juga menyuruh mereka untuk membatasi diri dengan lafaz-lafaz yang tidak ada ghuluw (berlebihan) dan agar tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidaksopanan seperti memanggil dengan kata ‘Muhammad’ tanpa memanggilnya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Dalam hadits tersebut terdapat larangan bersikap ghuluw dalam memuji dan menggunakan lafaz-lafaz yang membebani diri yang terkadang membawanya jatuh ke dalam syirik.
Faedah:
Tentang sabda Rasulullah “As Sayyyid (tuan yang sebenarnya) adalah Allah,” Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menjawab dengan ‘sayyidukum’ (sayyid kalian) seperti yang disangka, karena Beliau membantah pernyataan mereka ‘sayyiduna’ (tuan kami) karena dua hal;
Pertama, karena jika as sayyid maknanya umum, yang diambil dari huruf ‘al’, dimana huruf ‘al’ mengandung arti umum, dimana artinya adalah bahwa ketinggian secara mutlak adalah milik Allah Azza wa Jalla, akan tetapi jika sayyid yang disandarkan kepada sesuatu menjadi sayyid bagi sesuatu itu seperti sayyid Bani Fulan (pemimpin Bani Fulan), sayyidul basyar (pemimpin manusia), dsb.
Kedua, agar tidak memberi kesan, bahwa nama yang disebutkan itu termasuk ke dalam jenis yang disandarkan kepadanya, karena sayyid segala sesuatu termasuk jenisnya. Dan As Sayyid adalah salah satu nama Allah Ta’ala yang menjadi bagian makna Ash Shamad sebagaimana yang ditafsirkan Ibnu Abbas, bahwa Ash Shamad adalah yang sempurna dalam ilmu, santun, dan ketinggiannya, dan sebagainya (Disebutkan oleh Ibnu Jarir).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak melarang mereka mengucapkan ‘Engkau adalah sayyiduna’ bahkan mengizinkan sehingga Beliau bersabda, “Ucapkanlah perkataan atau sebagian perkataan yang wajar,” akan tetapi Beliau melarang mereka dari hal itu agar tidak diseret oleh setan, sehingga mereka mengangkat dari sayyid khusus kepada sayyid yang umum dan mutlak, karena ‘kata sayyiduna’ ini khusus dan disandarkan, sedangkan kata “as Sayyid” adalah sayyid yang umum dan mutlak tanpa disandarkan kepada sesuatu.” (Lihat Al Qaulul Mufid 2/519)
Kesimpulan:
1.       Tawadhu dan beradabnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kepada Allah Azza wa Jalla.
2.       Larangan bersikap ghuluw dalam memuji, apalagi memujinya secara langsung di hadapan.
3.       Kemuliaan dan ketinggian pada hakikatnya untuk Allah Azza wa Jalla, dan bahwa hendaknya meninggalkan memuji dengan kata ‘sayyid’.
4.       Larangan membebani diri dalam menyampaikan kata-kata, dan sepatutnya menyampaikan kata-kata yang sederhana.
5.       Menjaga Tauhid dari perkataan dan perbuatan yang dapat menodainya.
**********
Dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa ada beberapa orang yang berkata, “Wahai Rasulullah, wahai orang yang paling baik di antara kami, wahai putra orang terbaik di antara kami, wahai tuan kami dan putra tuan kami,” maka Beliau bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنِّي لَا أُرِيْدُ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِيْ أَنْزَلَنِيْهَا اللهُ تَعَالَى أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدُ اللهِ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Wahai manusia! Ucapkanlah kata-kata yang wajar bagi kalian semua dan jangan terbujuk oleh setan. Aku tidak suka kalian mengangkatku di atas kedudukan yang Allah Ta’ala tempatkan bagiku. Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba dan utusan-Nya.” (Hr. Nasa’i dengan sanad yang jayyid)
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan oleh Nasa’i dalam Amalul Yaumi wal Lailah no. 248-249 dan Ahmad dalam Musnadnya no. 12551, dan dinyatakan isnadnya shahih sesuai syarat Muslim oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah.
Dalam Hadits  di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak suka dipuji dengan kata-kata tersebut agar tidak sampai berlebihan memuji Beliau, karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan Beliau dengan kedudukan sebagai hamba-Nya, sehingga Beliau tidak suka dipuji secara berlebihan untuk menjaga posisi tersebut sekaligus membimbing umat agar meninggalkan hal itu sebagai bentuk nasihat dan menjaga tauhid. Beliau juga menyurruh mereka menyifati Beliau dengan dua sifat yang merupakan kedudukan tertinggi seorang hamba, yaitu hamba Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Beliau tidak suka diangkat melebihi posisi yang Allah telah tetapkan baginya.
Hadits tersebut menerangkan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dipuji dengan selain sifat yang telah Allah sematkan dalam diri Beliau untuk menjaga tauhid dan menutup sikap ghuluw yang mengantarkan kepada kemusyrikan.
Kesimpulan:
1.       Larangan bersikap ghuluw (berlebihan) dalam memuji dan menyusahkan diri dengan menggunakan kata-kata yang berlebihan agar tidak membawa kepada kemusyrikan.
2.       Tawadhunya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan usaha keras Beliau dalam menjaga tauhid dari segala yang merusaknya.
3.       Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.
4.       Peringatan agar tidak terpedaya oleh tipu daya setan, dan bahwa terkadang ia datang dengan mengajak melakukan perbuatan yang berlebihan sehingga melewati batas syariat.
Bersambung....
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraaji’: Al Mulakhkhash fi Syarh Kitab At Tauhid  (Dr. Shalih Al Fauzan),  Al Qaulul Mufid (Syaikh M. Bin Shalih All Utsaimin), Maktabah Syamilah, dll.