Wednesday, September 5, 2018

Kitab Tauhid 43

Bab : Ingkar Terhadap Nikmat Allah
Firman Allah Ta’ala,
يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا
“Mereka mengetahui nikmat Allah, tetapi kemudian mereka mengingkarinya…dst." (Qs. An Nahl: 83)
Dalam menafsirkan ayat di atas Mujahid berpendapat, maksudnya adalah pernyataan seseorang, “Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku.”
Aun bin Abdullah berkata, “Itu adalah pernyataan mereka, “Kalau bukan karena fulan tentu tidak menjadi begini.”
Ibnu Qutaibah berkata, “Yaitu perkataan mereka, “Ini sebab syafaat sesembahan-sesembahan kami.”
**********
Penjelasan:
Dalam bab ini, penyusun (Syaikh M. At Tamimi) ingin menerangkan tentang wajibnya beradab kepada Allah Azza wa Jalla dengan menjauhi lafaz-lafaz syirik khafi (tersembunyi) seperti menyandarkan nikmat kepada selain Allah, karena yang demikian dapat menafikan kesempurnaan tauhid.
Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, bahwa menyandarkan nikmat Allah kepada selain-Nya sama saja menyekutukan Allah dalam hal Rububiyyah, karena sama saja menyandarkan kepada sebab bahwa seakan-akan sebab itulah yang menjadikan demikian. Di samping itu, sikap tersebut juga menunjukkan bahwa orang tersebut tidak bersyukur kepada Allah dimana syukur merupakan bentuk ibadah, dan meninggalkan syukur dapat menafikan (kesempurnaan) tauhid, sehingga dalam menyandarkan nikmat kepada selain Allah terdapat sikap meremehkan tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah.
Mujahid bin Jabr Al Makkiy yang disebutkan di atas adalah murid Ibnu Abbad radhiyallahu anhuma yang wafat tahun 104 H menurut pendapat yang kuat.
Al Fadhl bin Maimun berkata, “Aku pernah mendengar Mujahid berkata, “Aku menyodorkan mushaf di hadapan Ibnu Abbas berkali-kali, aku bertanya kepada beliau pada setiap ayatnya, yakni bertanya tentang apa turun, bagaimana turunnya, dan apa maknanya?”
Beliau adalah Imam Ahli Tafsir dari kalangan tabi’in. Sufyan Ats Tsauriy berkata, “Jika datang tafsir kepadamu dari Mujahid, maka itu cukup bagimu.”
Aun bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud Al Hudzalliy adalah seorang yang tsiqah (terpercaya) dan ahli ibadah, wafat kira-kira tahun 120 H.
Ibnu Qutaibah namanya adalah Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuriy Al Hafizh, seorang Ahli Tafsir dan pemilik banyak karya. Ia wafat pada tahun 276 H.
Maksud ayat di atas adalah bahwa kaum musyrik mengetahui bahwa yang mereka terima berasal dari Allah Ta’ala, tetapi mereka malah mengingkarinya, yaitu dengan menyandarkan nikmat itu kepada selain-Nya seperti kepada sesembahan mereka atau nenek moyang mereka, sehingga pernyataan mereka bertentangan dengan apa yang mereka ketahui.
Mengingkari nikmat Allah Ta’ala disebut kufur nikmat. Kebalikannya adalah syukur. Inilah yang diperintahkan, dan rukun syukur ada tiga:
Pertama, menyebutnya dengan lisan, lihat Qs. Adh Dhuha: 11.
Kedua, mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah Ta’ala, dalilnya adalah ayat di atas (Qs. An Nahl: 83)
Ketiga, menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada Allah; bukan untuk kemaksiatan.
Kesimpulan:
1.      Kaum musyrik mengakui tauhid Rububiyyah; namun tidak mengakui tauhid Uluhiyyah.
2.      Wajibnya menyandarkan nikmat kepada Allah Ta’ala.
3.      Peringatan agar tidak menyandarkan nikmat kepada selain Allah Ta’ala, karena hal itu merupakan syirik dalam Rububiyyah.
4.      Wajibnya beradab dalam mengucapkan kalimat, dan haramnya bersandar kepada sebab. 
**********
Abul Abbas (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) setelah mengupas hadits Zaid bin Khalid yang telah lewat yang isnya menyebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Pada pagi hari ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur…dan seterusnya,” berkata, “Hal ini banyak terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang yang menyekutukan-Nya dengan menyandarkan nikmat-Nya kepada selain-Nya. Sebagian kaum salaf berkata, “Hal ini sama seperti pernyataan mereka, “Hal ini karena anginnya bagus dan nahkodanya pandai,” dan ucapan semisalnya yang biasa diucapkan banyak manusia.”
**********
Penjelasan:
Hadits Zaid bin Khalid telah disebutkan pada pembahasan hukum menisbatkan turunnya hujan kepada bintang.
Maksud atsar di atas adalah bahwa kapal ketika berlayar dengan baik dengan izin Allah, lalu mereka menisbatkan hal itu kepada angin yang bagus dan kepandaian nahkoda; mereka melupakan Allah Tuhan mereka yang telah mempermudah segala sesuatunya karena rahmat-Nya, sehingga hal ini sama seperti menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang.
Orang yang mengucapkan kata-kata yang mengandung penyandaran nikmat kepada selain Allah ada beberapa keadaan:
1. Jika menyandarkan kepada sebab yang tersembunyi; yang tidak memiliki pengaruh sama sekali, seperti mengatakan “kalau bukan karena wali fulan, tentu akan terjadi begini atau begitu,” maka hal ini adalah syirik akbar (besar), karena pada pernyataan itu menunjukkan keyakinannya bahwa wali fulan ikut serta mengatur alam semesta.
2. Jika penyandarannya kepada sebab yang benar dan dipandang syara atau akal, maka boleh namun dengan syarat ia tidak beranggapan bahwa sebab itulah yang menjadikan demikian dan tidak melupakan Allah yang menganugerahkan nikmat itu. Contoh sebab yang dipandang syara adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Kalau bukan karena aku, tentu ia (Abu Thalib) akan berada di lapisan bawah neraka.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
3. Jika penyandarannya kepada sebab yang tampak, akan tetapi tidak dianggap oleh syara, indra, maupun akal, maka ini adalah syirik asghar (kecil), seperti menyatakan, bahwa kejadian itu disebabkan karena cincin ini atau itu, dan bisa menjadi syirik akbar jika menyatakan, bahwa hal itu terjadi karena cincin ini atau itu dengan sendirinya.
Kesimpulan Umum:
1. Dalam bab di atas diterangkan tentang contoh mengetahui nikmat Allah namun malah mengingkarinya.
2. Mengetahui, bahwa pernyataan demikian sering terlontar di lisan orang banyak.
3. Menyandarkan nikmat kepada selain Allah merupakan bentuk mengingkari atau kufur terhadap nikmat. Sebaliknya menyandarkan nikmat kepada Allah Azza wa Jalla merupakan bentuk syukur.
4. Menyandarkan nikmat kepada selain Allah Ta’ala bisa sebagai kekufuran, baik kufur akbar (besar) maupun kufur asghar (kecil) tergantung keyakinan yang ada dalam hati seseorang.
5. Terkadang dua hal bertentangan ada dalam hati.

Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), A; Qaulul Mufid alak Kitabit Tauhid (Syaikh M. bin Shalih Al Utsaimin), Fathul Majid (Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh), MaktabahSyamilah versi 3.45, dll.