Saturday, August 5, 2017

Kitab Tauhid 34

Bab : Takut Kepada Allah
Firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Qs. Ali Imran: 175)
**********
Penjelasan:
Oleh karena takut termasuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah, maka di bab ini penyusun (Syaikh Muhammad At Tamimi) mengingatkan agar rasa takut ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa di antara tipu daya musuh-Nya, yaitu setan adalah menakut-nakuti kaum mukmin dengan kawan-kawannya (kaum musyrik) agar jangan berjihad terhadap mereka dan tidak melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap mereka. Pada ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita takut kepada mereka, dan memerintahkan agar kita hanya takut kepada-Nya saja, karena yang demikian termasuk konsekwensi keimanan, dimana setiap kali keimanan seorang hamba menguat, maka akan hilang rasa takut terhadap kawan-kawan setan.
Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Tsalatsatil Ushul,bahwa khauf (takut) ada tiga macam:
Pertama, khauf thabi’i (takut yang wajar), misalnya seseorang takut kepada binatang buas, takut kepada api, dan takut tenggelam. Rasa takut ini, pelakunya tidak dicela. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa ’alaihis salam, “Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya).” (Terj. QS. Al Qashash: 18), akan tetapi jika sampai menjadi sebab meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perbuatan haram, maka takut seperti ini haram.
Kedua, khauf ibadah, yaitu seorang takut kepada sesuatu, dimana ia beribadah dengan rasa takut ini. takut ini tidak boleh kepada selain Allah, mengarahkanya kepada selain Allah adalah syirik akbar (besar).
Ketiga, khauf sirr, misalnya seorang takut kepada penghuni kubur, ini termasuk syirik.
Kesimpulan:
1.      Takut termasuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla.
2.      Mengarahkan rasa takut kepada selain Allah Ta’ala adalah syirik,misalnya takut jika berhala atau sesembahan kaum musyrik itu menimpakan bahaya kepadanya, padahal sesembahan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
3.      Peringatan agar waspada terhadap tipu daya setan.
**********
Firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. At Taubah: 18)
**********
Penjelasan:
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa yang berhak memakmurkan masjid-masjid Allah adalah hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan kepada hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada seorang pun selain kepada Allah; bukan orang-orang musyrik yang mengurus Masjidilharam saat Mekah belum ditaklukkan.
Pada ayat di atas, Allah juga menerangkan, bahwa mereka yang memiliki sifat-sifat itulah yang mendapatkan petunjuk, yang di antara sifat itu adalah hanya takut kepada Allah saja.
Kesimpulan:
1.      Penjelasan tentang orang-orang yang berhak memakmurkan masjid Allah.
2.      Keutamaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya takut kepada Allah.
3.      Memakmurkan masjid adalah dengan melakukan ketaatan dan beramal saleh, bukan hanya membangunnya saja.
4.      Perintah hanya takut kepada Allah saja.
**********
Firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
“Dan di antara manusia ada orang yang berkata, "Kami beriman kepada Allah," maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, "Sesungguhnya Kami adalah besertamu." Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Qs. Al ‘Ankabut: 10)
**********
Penjelasan:
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan tentang orang yang masuk ke dalam keimanan tanpa bekal ilmu, bahwa dirinya ketika mendapatkan cobaan dan gangguan dari orang-orang, menganggap gangguan tersebut –padahal akan dialami rasul dan para pengikutnya- sebagai azab Allah. Dia melarikan diri dari gangguan musuh-musuh Allah menuju azab Allah. Tetapi ketika Allah membela tentara dan wali-Nya, ia berkata, “Sesungguhnya aku beserta kalian.” Padahal Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia.
Ayat di atas menunjukkan, bahwa takut kepada manusia karena khawatirmereka akan menimpakan keburukan kepadanya karena beriman kepada Allah termasuk takut kepada selain Allah yang menunjukkan kelemahan imannya.
Kesimpulan:
1.      Takut terhadap gangguan manusia karena beriman kepada Allah sama saja takut kepada selain Allah.
2.      Wajibnya bersabar ketika mendapat gangguan di jalan Allah.
3.      Lemahnya semangat kaum munafik.
4.      Menetapkan ilmu bagi Allah Ta’ala
**********
Dari Abu Sa’id radhiyallahu anhu secara marfu, bahwa termasuk lemahnya keyakinan adalah engkau mencari keridhaan manusia dengan mendapatkan kemurkaan Allah, engkau puji mereka atas rezeki yang Allah berikan melalui mereka, engkau cela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu melalui mereka. Sesungguhnya rezeki Allah tidaklah didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula digagalkan oleh kebencian orang yang membenci.”
**********
Penjelasan:
Hadits di atas disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 5/106, dan Baihaqi dalam Asy Syu’ab no. 203. Baihaqi menganggapnya cacat karena ada Muhammad bin Marwan As Suddiy, ia berkata, “Dha’if.” Di samping itu di dalamnya terdapat Athiyyah Al Aufiy, dimana Adz Dzahabi menyebutkannya ke dalam golongan Adh Dhu’afa wal Matrukin (orang-orang yang lemah dan ditinggalkan).
Thabrani juga menyebutkannya dari hadits Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dalam Mu’jam Kabirnya (10/215-216) no. 10514. Haitsami dalam Majmauz Zawaid (4/71) berkata, “Dalam sanadnya terdapat Khalid bin Yazid Al Umariy, seorang yang tertuduh memalsukan hadits.”
Hadits di atas juga didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dha’iful Jami no. 2007.
**********
Dari Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ. وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
“Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan mendapatkan kebencian manusia, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan mendapatkan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya.” (Hr. Ibnu Hibban dalamShahihnya)
Kesimpulan:
Hadits di atas disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawariduzh Zham’an no. 1542, Tirmidzi dalam kitab Az Zuhd no. 2414, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 6097, dan lihat pula tentang keshahihkan hadits di atas dalam Ash Shahihah no. 2311.
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menerangkan bahwa barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan melakukan berbagai amalan yang dapat mendatangkan kecintaan Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya meskipun manusia malah membencinya, maka Allah akan ridha kepadanya dan menjadikan manusia yang sebelumnya membencinya berubah menjadi mencintainya. Sebaliknya barang siapa yang mencari keridhaan manusia meskipun harus melakukan perbuatan yang dibenci Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia yang sebelumnya mencintainya berubah menjadi membencinya.
Dalam hadits di atas terdapat perintah takut hanya kepada Allah dan mengutamakan keridhaan-Nya di atas keridhaan makhluk.
Kesimpulan:
1.      Wajibnya takut hanya kepada Allah dan mengutamakan keridhaan-Nya di atas keridhaan makhluk.
2.      Hukuman bagi mereka yang mengutamakan keridhaan manusia dengan memperoleh kemurkaan Allah.
3.      Wajibnya bertawakkal kepada Allah dan bersandar kepada-Nya.
4.      Keutamaan mengutamakan keridhaan Allah Azza wa Jalla.
5.      Hati manusia di Tangan Allah Ta’ala.
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Mulakhkhash fii Syarh Kitab At Tauhid (Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan), Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis), Silsilatul Ahadits Ash Shahihah (M. Nashiruddin Al Albani), Talkhish Syarh Tsalatsatil Ushul (M. Shalih Al Utsaimin), Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.