Friday, February 26, 2016

Penyihir Tidak Akan Pernah Beruntung

Pembicaraan kita kali ini yaitu bahasan dan renungan terhadap ayat yang berhubungan dengan bahaya sihir. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya :

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Dan tidak akan beruntung seorang penyihir dari mana pun ia datang [Thaha/20:69]

Bahasan ini akan lebih sempurna apabila kita memperhatikan dan merenungi susunan dari ayat tentang bahaya sihir tersebut. Melalui kesempatan ini, saya mengingatkan kepada saudara-saudaraku sekalian bahwa susunan ayat ini merupakan susunan yang luar biasa dalam menjelaskan dan menetapkan bathilnya sihir dan betapa sihir sangat berbahaya serta efek yang akan ditimbulkannya; juga dalam menjelaskan dan menetapkan betapa sihir itu tidak mendatangkan manfaat sama sekali serta tidak membuahkan faidah maupun kebaikan apa pun. Bahkan sebaliknya, semua sihir itu adalah kejahatan dan kemudharatan. Para pelaku dan orang yang mendatangi penyihir tidak akan mendapatkan manfaat apapun.

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Thâha ayat ke-69 adalah hukum dan keputusan yang telah tetap dari Allâh dan qadha dari Allâh Azza wa Jalla yang pasti akan terlaksana. Ketetapan-Nya itu adalah seorang penyihir tidak akan pernah beruntung atau mendapatkan kebaikan darimana pun ia datang, dimanapun ia tinggal serta metode apa pun yang ia kerjakan untuk melakukan sihir tersebut. Penyihir juga tidak akan bisa menciptakan keberuntungan bagi orang lain, yang ada hanyalah kerugian di dunia dan akhirat. Inilah ketetapan Rabbull ’alamin, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas. Jika si penyihir itu sendiri tidak bisa meraih keselamatan, lalu bagaimana mungkin ada orang lain yang mengharapkan keberuntungan dan keselamatan darinya ? Bagaimana bisa ada orang yang sangat mengharap kebaikan darinya ? 

Kenapa banyak orang yang tidak merenungi makna yang agung ini serta kandungan-kandungan yang diisyaratkan oleh ayat yang mulia ini ? 

Ahli sihir itu sendiri tidak akan bisa meraih kebaikan dan yang mengatakan itu adalah Rabbul ’Alamin, Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Lalu, kenapa masih banyak orang yang bergantung pada penyihir ? 

Seyogyanya, ayat yang mulia ini menjadi pegangan kita untuk menolak dan menangkal semua kedustaan penyihir. Hendaklah ayat ini menjadi pegangan dan obor penerang bagi kita ketika mendengar ada orang yang membicarakan kebaikan, keselamatan dan keberuntungan yang diharapkan dari penyihir. Ingatkanlah dia dengan ayat ini bahwa penyihir itu tidak akan beruntung darimana pun dia datang. Tidak mungkin, ada orang yang bisa meraih kebaikan dari penyihir. Sebaliknya, penyihir dan orang yang mendatanginya hanya akan ditimpa kerugian di dunia dan akhirat. 

Allâh Azza wa Jalla l menjelaskan dalam kandungan surat Thaha tentang perseteruan antara seorang rasul dan imam yang menyeru kepada Allâh Azza wa Jalla , seorang nabi yang termasuk ulul 'azmi yang mengajak kepada kebaikan dan kebenaran yaitu Musa Alaihissallam dengan Fir’aun yang mengajak kepada kebathilan dan mengaku sebagai rabbul 'alamin. Dia juga mengaku bahwa dia tidak mengetahui adanya tuhan lain yang harus disembah dan diibadahi oleh kaumnya selain dirinya. Dia juga melakukan berbagai macam kekufuran, kesombongan dan keangkuhannya. Diantara bentuk kezhalimannya adalah dia memiliki andil besar dalam menyebarkan sihir dan menguatkan para penyihir, bahkan dia memberikan peluang selebar-lebarnya bagi para penyihir. akhirnya, jadilah para penyihir itu pendukung dan penolong Fir’aun, sebagaimana dijelaskan dibeberapa tempat dalam Surat Thaha ini. Allâh Azza wa Jalla mengirimkan Nabi Musa Alaihissallam kepada Fir’aun yang telah melampaui batas kesombongannya. Musa Alaihissallam ditugaskan untuk menjelaskan kebenaran dan menunjukkan jalan yang benar kepada fir’aun, serta mengingatkan Fir’aun dari kekufuran dan kesombongannya yang dilakukannya selama ini. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. [Thaha/20:44]

Musa Alaihissallam mulai melaksanakan tugasnya sebagai perintah Allâh Azza wa Jalla . Beliau Alaihissallam menegakkan hujjah, menjelaskan kebenaran dan menunjukkan jalan. Fir’aun juga bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri berbagai kelebihan Musa Alaihissallam yang merupakan bukti dukungan Allâh Azza wa Jalla untuknya. Kelebihan-kelebihan Musa Alaihissallam ini bisa menundukkan serta menaklukkan akal manusia, juga bisa menyebabkan orang-orang yang merenunginya menjadi beriman. Namun sangat disayangkan, Fir’aun tidak mau menerima kebenaran itu. Dia tetap memilih berbuat zhalim untuk dirinya sendiri. Dia tetap dalam kekufuran dan kebohongannya, padahal dia sudah melihat hal-hal yang mestinya bisa menyebabkannya beriman. Namun karena kesombongan dan kekufurannya, dia tetap enggan berislam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) [An-Naml/27:14]

Perhatikanlah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ آيَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَىٰ

Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepada Fir'aun tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran). [Thaha/20:56]

Dia enggan dan tetap menentang serta tetap tidak beriman, padahal dia sudah melihat tanda-tanda kekuasaan Allâh Azza wa Jalla yang teramat nyata. Tidak hanya itu, bahkan dia menuduh Musa Alaihissallam melakukan perbuatan sihir. 

قَالَ أَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَىٰ

Firaun berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk mengeluarkan kami dari negeri kami dengan sihirmu wahai Musa" [Thaha/20:57] 

Perhatikanlah kelicikan Fir’aun dalam upaya menyentuh dan menggerakkan hati orang-orang bodoh. Siapakah yang mau dikeluarkan dan diusir dari negerinya ? Tentu tidak ada seorangpun mau. Dia menuduh Musa Alaihissallam melakukan sihir guna mengusir penduduk negeri itu dari daerah mereka dan agar bisa meraih kekuasaan di wilayah tersebut. Kemudian dengan segala kesombongannya ia mengatakan kepada Musa Alaihissallam :

فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَا نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنْتَ مَكَانًا سُوًى ﴿٥٨﴾ قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

Jika demikian halnya, maka kami akan mendatangkan kepadamu sihir yang semisal dengannya. Maka tentukan tempat bertemu yang tidak dipungkiri oleh kami dan engkau, yaitu tempat yang terbuka". Musa menjawab, "Pertemuan kita adalah hari raya, dan hendaklah manusia dikumpulkan pada pagi hari (dhuha)". [Thaha/20:58-59]

Mengapa Musa memilih hari raya sebagai pertemuan antara ia dan Fir’aun dalam menunjukkan kebenaran ? Karena pada hari raya seluruh manusia biasanya meninggalkan kesibukan dan pekerjaan mereka sehingga diharapkan mereka berbondong-bondong sebanyak mungkin untuk menghadiri pertemuan antara ia dan Fir’aun. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada nabi-Nya agar menjawab dengan :

مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى

Pertemuan kita adalah hari raya, dan hendaklah manusia dikumpulkan pada pagi hari (dhuha)". [Thaha/20:59]

Nabi Musa Alaihissallam juga memilih waktu dhuha yaitu waktu permulaan siang, dimana saat itu segala sesuatu mulai tampak jelas. Dan sihir sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama’, biasanya kekuatannya akan berpengaruh pada malam hari dan biasanya juga para penyihir mulai melakukan aksi jahatnya diwaktu malam, saat kegelapan malam mulai menyelimuti manusia. Jika para penyihir terpaksa melakukan sihir pada siang hari mereka akan memilih tempat yang gelap tanpa cahaya. 

Lalu mengapa juga Musa Alaihissallam memilih waktu dhuha sebagai waktu pertemuan ? Jawabannya adalah agar semua yang hadir dapat menyaksikan dengan jelas apa yang terjadi antara ia dengan sihir Fir’aun. 

Tatkala manusia telah berkumpul di tempat yang telah ditentukan pada waktu dhuha, Fir’aun mulai mengatur tipu dayanya. Allâh Azza wa Jalla menceritakan hal itu dalam firman-Nya :

فَتَوَلَّىٰ فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهُ ثُمَّ أَتَىٰ

Maka Firaun meninggalkan tempat itu lalu mengatur tipu dayanya kemudian dia datang kembali. [Thaha/20:60]

Para penyihir sudah terkumpul dan mulai bergerak kearah tempat yang ditentukan. Jumlah mereka sangat banyak. Para Ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa jumlah mereka mendekati angka tiga puluh ribu, ada juga yang mengatakan lebih dari itu. Ini menunjukkan banyaknya ahli sihir yang berhasil dikumpulkan oleh Fir’aun. Setelah para ahli sihir tersebut berkumpul di tempat yang telah disepakati, Musa Alaihissallam menggunakan kesempatan itu untuk memberikan mau’idzah (peringatan). Ini menunjukkan pentingnya memberikan peringatan dalam segala keadaan. Nabi Musa Alaihissallam mengatakan dihadapan mereka : 

قَالَ لَهُمْ مُوسَىٰ وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ

Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh, nanti Dia akan membinasakan kamu dengan azab.” Dan sungguh rugi orang yang mengada-adakan kebohongan”.[Thaha/20:61]

Inilah peringatan Nabi Musa Alaihissallam kepada para ahli sihir itu. Mereka diingatkan tentang murkan Allâh dan ancaman siksa yang pasti akan menimpa mereka jika mereka berani melakukan kebohongan maksudnya sihir, karena sihir termasuk kebohongan dan kekufuran terhadap Allâh Azza wa Jalla . Mereka juga diingatkan tentang kerugian yang pasti akan membinasakan dan menghancurkan mereka. 

Peringatan Nabi Musa Alaihissallam tersebut dengan izin Allâh telah meninggalkan pengaruh dihati sebagian para ahli sihir Fir’aun, sehingga mereka bingung dan saling berselisih tentang Musa Alaihissallam . Terjadi perdebatan diantara mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَىٰ

Mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka ”.[Thaha/20:62]

Dalam masalah apakah mereka berbantah-bantahan ? Dalam ayat yang mulia ini tidak disebutkan secara rinci, namun dari konteks ayat dapat disimpulkan permasalahan yang mereka perdebatkan yaitu perkataan Musa yang baru saja mereka mendengarnya. Sebagian mereka berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh Musa Alaihissallam bukanlah sihir, sementara sebagian yang lain berpandangan bahwa itu sihir. Kenapa mereka berdebat ? Karena mereka tidak pernah mendengar perkataan yang sama dari penyihir padahal semuanya ahli sihir. Tidak ada seorang ahli sihir pun yang akan mengucapkan perkataan yang sama dengan Musa Alaihissallam . Jika demikian, berarti perkataan ini bersumber dari orang yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla hari akhir, dari orang yang senantiasa takut terhadap siksa Allâh Azza wa Jalla . Orang ini sedang memperingatkan orang lain agar tidak terkena adzab Allâh Azza wa Jalla . Inilah yang menyebabkan mereka berdebat. Namun sebagian dari ahli sihir itu segera menyadari bahaya yang mengancam barisan mereka, sehingga mereka berusaha mengembalikan kebersamaan mereka. Sehingga terjadilah apa yang terjadi, sebagaimana diceritakan oleh Allâh Azza wa Jalla :

فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَىٰ

Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). [Thaha/20:62]

Mereka terus berusaha mengembalikan kekuatan barisan mereka yang sudah kocar-kacir karena pengaruh dari ucapan atau peringatan yan disampaikan Musa Alaihissallam . 

Mereka mencoba menghasut yamg lain agar beranggapan bahwa Musa Alaihissallam seorang penyihir :

قَالُوا إِنْ هَٰذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ

Mereka berkata, "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama. [Thaha/20:63]

Ungkapan para ahli sihir ini, ”Mereka hendak mengusir kamu dari negeri kamu.” sama dengan perkataan Fir’aun yang diceritakan pada ayat ke-59. Argumen para penyihir itu sama dengan apa yang telah diucapkan Fir’aun dalam membantah kebenaran yang dibawa oleh Musa Alaihissallam . Ada kemungkinan, mereka memang diajari alasan yang sama lalu mereka menjiplak atau secara tidak sengaja keluar dari lisan mereka syubhat yang sama. Hanya saja, para penyihir menambahkan syubhat yang lain yaitu : 

وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ

dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama. [Thaha/20:63] 

Disini terdapat pelajaran penting yaitu ahlul bathil (para pelaku kesesatan) selalu mengatakan bahwa jalan merekalah yang paling baik dan agama merekalah yang paling benar. Belum pernah ada dalam sejarah, pelaku kebathilan mengaku bahwa dia sedang menyeru kepada kebathilan, termasuk dalam kisah Musa Alaihissallam versus penyihir ini. Kemudian perkataan mereka selanjutkan diceritakan oleh Allâh Azza wa Jalla :

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَىٰ

maka mereka berkata: maka kumpulkanlah segala tipu daya (sihir) kalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini”.[Thaha/20:64] 

Mereka menyerukan para penyihir yang lain agar bersatu, bahu membahu menghadapi Musa Alaihissallam . 

Kemudian, coba kita perhatikan penggalan perkataan mereka, ” dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini”. Artinya, semua penyihir itu mengira bahwa mereka akan akan beruntung dan bisa meraih berbagai kebaikan dengan sihir mereka, akan tetapi kenyataannya berbeda. 

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ

Mereka berkata: "Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" [Thaha/20:65]

Menjawab tantangan ini, Allâh Azza wa Jalla mengilhamkan kepada Nabi-Nya agar mempersilahkan mereka terlebih dahulu. Allâh berfirman :

قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ

Musa berkata, "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.[Thaha/20:66] 

Maksudnya, Musa dan para hadirin seakan melihat tongkat dan tali-tali para penyihir itu merayap seperti ular di sekitar tempat perseteruan itu. Ini menunjukkan bahwa sihir yang mereka praktikkan dalam pertemuan itu adalah sihir takhyil, dimana para penonton seakan diberi gambaran sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Seakan ular merayap memenuhi lapangan itu tapi sebenarnya tongkat dan tali. Akibat dari pemandangan itu, rasa takut mulai menyelinap di hati orang yang melihatnya termasuk Musa Alaihissallam . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ

Maka Musa merasa takut dalam hatinya [Thaha/20:67]

Rasa takut seperti ini, dinamakan oleh para Ulama dengan al-khauf ath thabi’iy, yaitu rasa takut yang merupakan tabiat setiap manusia, seperti takut terhadap binatang buas, ular atau musuh. Rasa takut seperti ini tidak mempengaruhi keimanan seorang Mukmin. 

Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Musa Alaihissallam : 

قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ

”jangan takut! Sungguh engkaulah yang unggul (menang)”. [Thaha/20:68]

Janganlah engkau merasa takut dan khawatir dengan pemandangan yang mereka pertontonkan. Nabi Musa Alaihissallam bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan penuh keimanan. Lalu Musa Alaihissallam melemparkan tongkat yang ada di tangannya sebagai diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla . 

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". [Thaha/20:69]

Tongkat yang dilemparkan oleh Nabi Musa berubah menjadi ular yang besar dan menelan ular-ular hasil sihir mereka. Ini adalah tanda kebesaran Allâh Azza wa Jalla , yang mana tongkat Nabi Musa Alaihissallam dapat berubah menjadi ular dan mampu menelan tali dan tongkat milik para penyihir yang terlihat oleh pandangan manusia seolah-olah ular yang hidup. Ini jelas sangat berbeda dengan sihir yang dilakukan oleh para penyihir itu, dimana tongkat Nabi Musa Alaihissallam benar-benar berubah ular dan menelan semua tali serta tongkat para penyihir itu. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla Maha kuasa atas segala sesuatu. Kemudian setelah semuanya habis tertelan, tongkat itu kembali ke wujud semula di tangan Nabi Musa Alaihissallam . Subhanallah, kemanakah menghilangnya tali-tali dan tongkat para penyihir itu ? Wallahu a’lam. Ini adalah kekuasaan Allâh l yang menguatkan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa Alaihissallam . 

Pada kesempatan ini juga, saya ingin mengingatkan pada sebuah faidah yang sangat penting yaitu dala, ayat tersebut terdapat dukungan kepada orang yang mengikuti jalannya para nabi dalam mendakwahkan tauhid dan memperingatkan manusia dari kesyirikan dan perbuatan bathil lainnya, termasuk sihir. Orang yang seperti ini, pasti selalu mendapatkan pertolongan dari Allâh Azza wa Jalla . Ini adalah janji Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), [Ghafir/40:51]

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan merupakan keharusan bagi kami untuk menolong orang-orang yang beriman. [Ar-Rûm/30:47]

Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla memberikan dorongan dan dukungan kepada Musa Alaihissallam dalam kisah di atas, maka Allâh Azza wa Jalla juga akan menolong dan mendukung orang-orang yang menempuh jalannya para nabi dalam mendakwahkan tauhid dan memperingatkan manusia dari perbuatan syirik.

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah, ”ini adalah jalanku, menyeru kepada Allâh denagn bukti; aku dan orang-oarng yang mengikutiku” [Yusuf/12:108]

Oleh karena itu, dalam ayat yang lain, saat menyebutkan kisah yang sama, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan perkataan Nabi Musa yang menyatakan bahwa sihir yang dibawa oleh para penyihir itu akan diperlihatkan ketidakbenarannya oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ ۖ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ

Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata, "Apa yang kamu lakukan itu, Itulah yang sihir, Sesungguhnya Allâh akan menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allâh tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. [Yunus/10:81]

Berdasarkan ayat ini, bisa disimpulkan bahwa para penyihir itu adalah orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi Allâh Azza wa Jalla dan Allâh Azza wa Jalla tidak memperbaiki perbuatan orang-orang yang melakukan kerusakan. Sebaliknya, Allâh Azza wa Jalla akan menolong, mendukung dan memberikan kemapanan dan keteguhan kepada orang-orang yang melakukan perbaikan. Inilah salah satu faidah penting dari ayat di atas bagi orang-orang yang menempuh jalannya para nabi. 

BAGAIMANA SIHIR TERLAKSANA?
Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa sesungguhnya perbuatan sihir yang dilakukan oleh tukang sihir tidak akan bisa terlaksana kecuali dengan melakukan kekufuran dan kesyirikan kepada Allâh Azza wa Jalla . Para tukang sihir tidak akan mungkin mampu melakukan sihir dan sihir tidak akan berpengaruh kecuali dengan melakukan dua tahapan langkah kekufuran. 

Langkah pertama, yaitu mencampakkan al-Qur’an. Oleh karena itu, setiap orang yang hendak memasuki dunia sihir, maka dia diminta untuk menghinakan al-Qur’an. Semakin berani dia menghinakan al-Qur’an, maka kekuatan sihir akan semakin hebat. 

Langkah kedua adalah mengikuti seruan setan yang menyerukan kekufuran. 

Sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa susunan ayat al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 101-103 menunjukkan kekufuran para penyihir terhadap Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang ditinjau dari tujuh sisi.

1. Menyampakkan Kitab Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana Firman-Nya :

نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ

sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allâh itu ke belakang (punggung)”. [Al-Baqarah/2:101]

Dan telah maklum bahwa meninggalkan, mencampakkan atau menolak al-Quran adalah sebentuk kekufuran.

2. Mengikuti setan, sebagaimana firman-Nya :

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman”. [Al-Baqarah/2: 102]

Mengikuti setan maksudnya adalah mengikuti seruan setan untuk melakukan berbagai perbuatan syirik, padahal dalam salah satu do’a yang diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

Aku berlindung kepada-Mu dari setan dan kesyirikan yang diserukan oleh setan.

3. Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman q bersih dari tuduhan yang dilontarkan para penyihir yang menyatakan bahwa Nabi Sulaiman melakukan sihir. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا

Sulaiman tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir. [Al-Baqarah/2: 102]

Dengan ini, Allâh Azza wa Jalla menyatakan bersihnya Sulaiman dari perbuatan sihir. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mempelajari dan mempraktikkan sihir termasuk kekufuran, karena Allâh Azza wa Jalla menyatakan bersihnya Sulaiman q dari sihir dengan firman-Nya, yang artinya, ”Sulaiman tidak kafir akan tetapi setan-setan itulah yang kafir.” 

4. Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ

tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia [Al-Baqarah/2: 102]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kekufuran setan itu diiringi dengan penjelasan tentang perbuatan setan yang mengajarkan sihir kepada manusia. 

5. Kisah Harut dan Marut, dua malaikat utusan Allâh Azza wa Jalla untuk menguji manusia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

Padahal keduanya tidak mengajarkan (sihir) kepada seseorang sebelum mengatakan , ”sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), oleh sebab itu janganlah kafir. [Al-Baqarah/2:102]

6. Firman Allâh tentang orang-orang yang mempelajari sihir :

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

dan sungguh mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat”. [Al-Baqarah/2:102]

Dan orang-orang yang tidak beruntung di akhirat adalah oarang-orang yang kafir terhadap Allâh Azza wa Jalla .

7. Firman Allâh Azza wa Jalla : 

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allâh pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu. [Al-Baqarah/2:103] 

Inilah tujuh sisi yang menunjukkan kufurnya para penyihir. 

FAIDAH AYAT
Akhirnya, pembahasan ini kami akhiri dengan menyebutkan beberapa faedah yang bisa dipetik dari firman Allâh Azza wa Jalla : 

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

“Dan tidak akan beruntung seorang penyihir dari mana pun ia datang” [Thaha/20:69]

Kami sebutkan dalam bentuk point-point penting tanpa penjelasan rinci, karena khawatir terlalu lama. Faidah-faidah tersebut adalah :

1. Penyihir itu tidak akan pernah beruntung, sebagaimana dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla . Perlu diketahui, kata ”al-falâh”, sebagaimana disebutkan oleh para Ulama, adalah sebuah kalimat yang maknanya paling luas, mencakup seluruh kebaikan dunia dan akhirat. Sehingga dengan dinafikannya al-falâh dari penyihir, berarti penafian semua kebaikan dari para penyihir. Akhirnya, penyihir hanya akan ditimpa kesedihan, kesengsaraan dan kerugian di dunia dan akhirat.

2. Sihir itu bermacam-macam tidak hanya satu bentuk, satu aliran atau pun metode. Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menegaskan bahwa penyihir itu tidak akan pernah beruntung darimanapun dia , atau dengan metode apapun juga. Hasil akhirnya, dia tidak akan beruntung di dunia maupun di akhirat secara mutlak.

3. Allâh Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa penyihir tidak akan pernah beruntung, lalu bagaimana dengan orang yang datang kepadanya untuk meminta keberuntungan, kebaikan atau kemaslahatan, bantuan dengan perbuatan sihirnya ?? Tentu dia lebih pantas untuk tidak mendapatkan kebaikan dan keberuntungan di dunia dan akhirat.

4. Ayat tersebut di atas menjelaskan bathilnya an-nusyrah yaitu menolak atau mengobati sihir dengan sihir yang serupa. Dalam sebuah hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hal tersebut, kemudian beliau menjawab : 

هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

Itu termasuk perbuatan setan. 

Jadi melawan atau menangkal sihir dengan sihir tidak diperbolehkan dalam Islam. Seorang Muslim tidak dibenarkan untuk datang kepada tukang sihir, meskipun hanya untuk meminta pengobatan dari sihir yang menimpanya dengan sihir lainnya. Kesimpulan ini diambil berdasarkan ayat tersebut di atas, yang menyatakan bahwa penyihir tidak akan pernah beruntung dan tidak mungkin orang lain mendapatkan kebaikan apapun darinya, meskipun hanya sekedar menangkal sihir dengan sihir. 

5. Orang yang datang kepada penyihir kendati tujuannya adalah untuk mengobati sihir yang menimpanya, ia tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, dia akan tertimpa kerugian dan kesengsaraan yang menimpa penyihir. Karena penyihir, ketika didatangi oleh seseorang meskipun tujuannya hanya untuk menangkal atau menghilangkan sihir yang menimpanya, maka dia tidak akan bisa mengobatinya kecuali dengan melakukan ritual pendekatan kepada setan. Akibatnya, bisa jadi orang yang datang hanya meminta bantuan pengobatan yang ringan, namun akhirnya terjerumus dalam musibah besar, yaitu kufur kepada Allâh Azza wa Jalla , syirik serta bergantung kepada setan. 

6. Ayat ini, jika difahami dengan baik, akan menguatkan rasa tawakkal seseorang yang ada dalam hatinya dan keimanannya kepada Allâh Azza wa Jalla , karena Allâh Azza wa Jalla telah memberitakan bahwa penyihir itu tidak akan pernah beruntung. Juga dalam ayat lain :

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ 

Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allâh Azza wa Jalla [Al-Baqarah/2:102]

Dengan demikian, hati seorang mukmin tidak akan menoleh kepada para ahli sihir juga para pendukung mereka lantaran takut kepada mereka. Dia akan menguatkan rasa tawakkal dan keimanan kepada Allâh Azza wa Jalla , karena dia tahu betul bahwa tidak mungkin ada yang bisa mencelakakannya kecuali dengan ijin dari Allâh Azza wa Jalla . Maka dengan ayat ini tawakkal seorang mukmin kepada Allâh akan semakin kuat karena Allâh adalah tempat kembali, tempat bergantung, tempat bertawakkal dan tempat meminta pertolongan.

7. Bahwasanya keberuntungan, kebaikan dan kemenangan itu hanya buat orang-orang yang beriman, bukan bagi penyihir. Karena Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan, saat para penyihir mengatakan dengan penuh percaya diri : 

وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَىٰ

Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini. [Thaha/20:64]

Namun, kenyataan berkata lain, Allâh Azza wa Jalla tidak memberikan kemenangan kepada mereka dan memberikannya kepada Musa Alaihissallam . Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menegaskan bahwa penyihir itu tidak akan pernah beruntung darimanapun dia datang. Penegasan ini diawali dengan perintah Allâh Azza wa Jalla kepada Nabi Musa Alaihissallam untuk melemparkan tongkatnya sehingga dengan idzin-Nya tongkat berubah menjadi ular yang menelan tali dan tongkat milik para penyihir yang telah dikhayalkan seakan-akan ular-ular yang berjalan dengan sebab sihir. 

8. Hukum yang telah dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla tentang para penyihir dalam ayat ini adalah hukum umum yang mencakup seluruh penyihir di segenap zaman dan waktu, dari dahulu hingga akhir zaman. Kesimpulan ini, kita ambil berdasarakan metode al-Quran dalam menjelaskan suatu hukum yang umum. Ya, memang peristiwa Nabi Musa Alaihissallam ini terkait dengan para penyihir tertentu dan pada zaman tertentu, tapi perhatikan firman Allâh Azza wa Jalla ini :

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang". [Thaha/20:69]

Dalam redaksi ayat ini, Allâh Azza wa Jalla tidak mengatakan, ”Mereka tidak akan menang.” Tapi Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, ”Tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja dia datang.” 

Metode al-Qur’an, jika hendak menetapkan suatu hukum yang tidak dikhususkan untuk kaum tertentu, yang sedang dibantah keburukannya, atau dengan kata lain, bersifat umum mencakup itu dan orang yang memiliki keburukan yang sama, maka hukum yang disebutkan itu akan ditetapkan dengan sifat umum. Sebagaimana dalam ayat ini :

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

dan tidak akan menang penyihir, dari mana pun ia datang

kata as-sahir dalam ayat di atas artinya semua penyihir, karena alif lam yang ada dalam kata tersebut adalah alif lam jinsiyah. 

9. Ayat ini juga menunjukkan pentingnya mempelajari sirah para Nabi Alaihissallam. Karena sirah (sejarah perjalanan hidup) mereka sarat dengan pelajaran berharga bagi seorang Muslim. Juga bisa memperkuat keimanannya, memperteguh hatinya dan memperkuat hubungannya dengan Allâh Azza wa Jalla . Sehingga ia akan senantiasa bertawakkal, menggantungkan segala urusannya dan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa yang membaca dan menela’ah kisah ini dan kisah lain yang semisal yang disebutkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Quran, maka ia akan mendapatkan manfaat yang banyak. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Dan sungguh dalam kisah mereka (para nabi) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. [Yusuf/12:111] 

10. Dalam ayat ini terdapat penguat bagi firman Allâh Azza wa Jalla dalam ayat yang lain (Ath-Thalaq/65: 3): 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

”dan barangsiapa bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , niscaya Allâh akan mencukupkan (keperluan)nya”. 

Dan firmanNya, 
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

Bukankah Allâh mencukupkan hambaNya. [Az-Zumar/39:36]

Dalam kisah di atas, Musa Alaihissallam berhadapan kelompok besar ahli sihir, yang jumlahnya mendekati angka 30.000, sebagaimana disebutkan para Ulama ahli tafsir. Mereka bersatu padu dengan sihir untuk menghadapi Musa Alaihissallam , namun semua tipu daya yang mereka lakukan dalam pertarungan itu dihancurkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Hasil akhirnya adalah kekalahan dan kerugian menjadi bagian para penyihir sementara Musa Alaihissallam meraih kemenangan dengan keimanannya kepada Allâh Azza wa Jalla . 

PENUTUP
Kita memohon kepada Allâh pemilik ’Arsy yang agung dengan segenap Nama-nama-Nya yang terindah dan Sifat-sifat-Nya yang tertinggi, semoga Allâh Azza wa Jalla membimbing kita kepada perkataan yang baik dan amal shaleh. Dan semoga Allâh Azza wa Jalla memperbaiki segala urusan kita dan semoga Allâh Azza wa Jalla tidak menyerahkan urusan kita kepada diri kita sendiri, meski sekejap mata. 

Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam.

Oleh Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr حفظه الله

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013.]